News Flash Education
Home Article READING FOR UNDERSTANDING : BEKAL ENAK UNTUK ANAK DAN ORANG TUA DALAM PROSES MEMBACA

READING FOR UNDERSTANDING : BEKAL ENAK UNTUK ANAK DAN ORANG TUA DALAM PROSES MEMBACA

September 29, 2021 0 comment

Jakarta, TK Yasporbi I, Proses membaca pada anak usia Taman Kanak – Kanak ( TK ) bukan hanya sekedar mengenali huruf dan mengeja namun ada rentetan proses panjang yang harus dilalui sejak balita. Hal ini diungkapkan oleh narasumber kegiatan parenting  mengenai membaca yaitu ibu Chusnul Chotimah langsung dari Kamboja. Beliau bekerja di Southbridge International School Cambodia berkesempatan mengisi kegiatan parenting yang diadakan oleh TK Yasporbi I Pancoran pada hari Sabtu, 25 September 2021 mulai pukul 09.00  hingga 11.00 melalui aplikasi zoom meeting.

TK Yasporbi I mengangkat tema “membaca bekal enak untuk orang tua dan anak dalam proses membaca” didasari oleh beberapa pertanyaan yang muncul seputar target membaca di sekolah TK. Seperti kita ketahui bersama, kemampuan membaca pada anak TK menjadi satu hal yang “krusial” dan “sensitif”. Krusial di sini artinya seolah – olah membaca adalah target utama keberhasilan anak – anak TK selama bersekolah. Sementara sensitif di sini artinya keberhasilan anak TK ketika mampu membaca menjadi pencapaian utama guru TK. Apabila lulus dari sekolah TK sudah bisa membaca, artinya guru berhasil dan sebaliknya. Ditambahkan dengan target membaca menjadi salah satu syarat masuk ke jenjang yang lebih tinggi membuat sebagian orang tua merasa ketar ketir menghadapi fase ini.

Miskonsepsi tersebut telah terpendam lama dalam konteks pendidikan tanpa ada yang menguraikan bahwa proses membaca adalah proses panjang yang bahkan diawali saat anak usia tiga sampai dua belas bulan melalui ekspresi wajah orang tua atau orang – orang disekitarnya. Hal ini disebut termasuk dalam  keterampilan pra – membaca. Dalam kegiatan parenting kali ini, Ibu Unun, panggilan dari Ibu Chusnul juga membeberkan beberapa strategi untuk memotivasi membaca di rumah, baik untuk orang tua juga untuk anak, diantaranya adalah pada usia anak 1 sampai 3 tahun, anak bisa diajak untuk berpura – pura membaca kemudian orang tua bisa membacakan buku atau cerita setiap harinya. Kegiatan ini adalah termasuk keterampilan pra – membaca print motivation dimana anak diajak untuk memiliki ketertarikan kepada buku.

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa proses membaca pada anak bukan hanya semata – mata anak mampu mengeja dua atau tiga suku kata tapi anak harus mengerti decoding yaitu mengenali dan memahami bentuk huruf, angka, symbol, dan bagaimana hal tersebut digunakan untuk membentuk kata dan kalimat serta mempresentasikan ide. Setelah itu, pemahaman yaitu mengkonstruksikan makna dari kata, angka dan symbol dalam konteks yang berbeda. Misalnya ketika anak mengatakan buku maka anak mengerti bentuk buku tersebut. Salah satu cara melatihnya adalah berikan anak satu benda sederhana lalu minta anak untuk menyebutkan apa nama benda tersebut. Kegiatan sederhana ini berguna untuk mengingatkan guru dalam mengajarkan proses membaca pada anak sesuai dengan tingkat perkembangan usia anak.

Sementara itu, salah satu tujuan dari proses membaca adalah membantu anak untuk mampu berpikir kritis /critical thinking. Hal ini bisa guru atau orang tua latih dengan membacakan satu buku cerita dan mengexplore kegiatan tersebut dengan menanyakan apa warna buku tersebut, siapa tokoh yang ada di cerita itu, minta anak untuk menerka ahir dari cerita atau bisa minta anak meneruskan jalan cerita sesuai dengan pemikiran anak, biarkan anak “berkhayal” dengan cerita tersebut. Berikan banyak eskposure kepada anak dalam menjalani fase membaca dengan tujuan memberikan anak pengalaman belajar yang mereka akan gunakan saat menerima pengetahuan baru yang lain.

Ibu Unun juga mengingatkan orang tua dan guru untuk selalu mengapresiasi apabila ada anak yang bertanya mengenai banyak hal. Misalkan “ibu, apa itu pelangi?” “kenapa dinosaurus itu besar?” dengan menanyakan kembali kepada anak “Apa maksud dari kata tersebut?” lalu tanyakan juga kepada anak “Apakah jawaban bunda sudah kamu mengerti?” Komunikasi sederhana seperti di atas menjadi trigger bagi anak untuk selalu bertanya mengenai apa yang baru diketahuinya guna mengumpulkan sebanyak mungkin makna kata. Di akhir acara bu Unun juga menegaskan bahwa tidak ada anak yang tidak bisa membaca, semua pasti akan bisa membaca hanya tergantung bagaimana orang disekitarnya mengeskplore dan memberikan eksposure kepada anak.

Jadi rentetan panjang dari proses membaca dimulai dari bagaimana anak mengamati, menyimak, mendengar, memahaminya, memaknai baru kemudian masuk pada mengenal huruf. jangan sampai anak kita bisa membaca namun tidak mengetahui maknanya! (Penulis: Dieni Savitri)

You may also like

Leave a Comment